SEPUTARBABEL.COM, BELITUNG TIMUR – Upaya konservasi satwa endemik dan ekosistem pesisir di ekosistem pesisir Belitung Timur kini tak hanya menjadi program pemerintah dan lembaga internasional, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat desa.
Program Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut (SOLUSI), yang dijalankan oleh Yayasan Tarsius Center Indonesia (YTCI) bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan Jerman, kini memasuki tahap implementasi di tiga desa, yakni Simpang Tiga, Lintang, dan Gantung, Sabtu, 24 Januari 2026.
Di Desa Lintang, warga bersama komunitas lokal seperti Tebat Rasau dan Gubok Tuk Layang terlibat langsung dalam penanaman 16 jenis tanaman lokal serta pengawasan habitat satwa endemik seperti tarsius dan lutung putih.
“Kami bukan hanya menanam pohon, tapi juga belajar menjaga rumah bagi satwa langka di sekitar desa kami,” ujar salah satu anggota komunitas.
Sementara itu, di Desa Gantung, masyarakat turut membina area mangrove dengan total 18.750 bibit yang ditanam di sepanjang pesisir desa.
Mangrove ini tidak hanya menjadi habitat bagi satwa laut, tetapi juga berfungsi sebagai benteng alami desa dari abrasi dan perubahan iklim. Warga desa ikut merawat dan memantau pertumbuhan bibit-bibit mangrove tersebut.
Di Desa Simpang Tiga, konservasi alam dipadukan dengan pengembangan ekowisata dan pengelolaan sampah.
Hal ini dilakukan agar pertumbuhan desa, termasuk rencana kehadiran satu batalyon militer, tidak mengganggu keseimbangan lingkungan.
Warga di sini dilibatkan sebagai pemandu ekowisata dan pengelola program pengurangan sampah.
“Konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa dan pohon, tapi juga tentang bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dengan alam sambil memperoleh manfaat ekonomi,” kata Program Manager SOLUSI YTCI, Ade Afrilian Saputra.
Program SOLUSI sendiri menargetkan tahun 2026 sebagai fase implementasi langsung, sementara 2027–2028 akan fokus pada pemantauan keberlanjutan dan dampak jangka panjang bagi lingkungan serta masyarakat Belitung Timur.
Langkah ini menunjukkan bahwa konservasi yang efektif tidak hanya membutuhkan dokumen dan perencanaan, tetapi juga kolaborasi aktif antara lembaga, pemerintah, dan warga lokal sebagai pengelola langsung lingkungan mereka. (*/SeputarBabel.com)












