Respon Bujang terhadap Kritik Anak Pesisir Pulau Mendanau: Sebuah Tantangan Demokrasi?

Jika hutan dan lahan dibuka tanpa kendali, yang datang adalah banjir, longsor, rusaknya sumber air, dan rakyat kecil yang menjadi korban. Itu fakta, bukan karangan.

SEPUTARBABEL.COM, BELITUNG – Respon Bujang terhadap kritik yang datang dari anak pesisir Pulau Mendanau bukanlah masalah biasa. Jika kritik diakui sebagai bagian dari demokrasi, maka negara wajib menjaminnya, Selasa (3/3/2026).

Alih-alih dikoreksi dengan kebijakan evaluatif dan menenangkan hati publik, Bujang makin berani menyatakan sikap secara terbuka melalui pesan WhatsApp kepada Obri, seorang masyarakat yang peduli terhadap lingkungan kelahirannya.

Masih soal konflik lahan di Desa Selat Nasik, Bujang kembali menunjukkan sikapnya yang agresif. Di dalam isi percakapan pesan WhatsApp yang diunggah oleh akun @Obri Dragons (Bang Obri-red), memposting isi percakapan tersebut.


Foto tersebut merupakan gambar yang di unggah oleh aku Facebook @ObriDragons, pada Jum’at (27/2/2026).

Pertanyaannya siapa dan apa peran Bujang dalam penjualan lahan untuk kebun sawit di Desa Selat Nasik?

Kritik dari masyarakat seharusnya disambut dengan tangan terbuka, bukan dengan sikap defensif dan agresif. Apakah Bujang lupa bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi? Atau apakah dia merasa bahwa dirinya tidak perlu bertanggung jawab atas tindakannya? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab oleh Bujang sendiri.

Bagi masyarakat Pulau Mendanau, kasus ini menjadi perhatian serius. Mereka berharap agar Bujang dapat menunjukkan sikap yang lebih bijak dan kooperatif dalam menghadapi kritik dan aspirasi masyarakat.

Saat di konfirmasi awak media Seputarbabel. Com terkait isi percakapan tersebut, Bujang menyampaikan untuk bertemu secara langsung.

“ke selat gung mun nak betanyak jadi nyaman ,,, paya ngak dari hp ne, ” tulisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *