BELITUNG, SEPUTARBABEL.COM —Isu pengelolaan sumber daya alam timah di Kabupaten Belitung kembali menjadi sorotan tajam. Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Belitung, Saftomi, menegaskan pengelolaan industri timah harus berlandaskan prinsip bersih, transparan, dan adil. Tujuannya jelas: manfaat kekayaan alam ini harus dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas, bukan hanya menguntungkan segelintir pihak saja.
Menurut Saftomi, timah adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan dikelola penuh tanggung jawab. Pengelolaannya tidak boleh merusak lingkungan, melainkan harus menjamin kesejahteraan yang berkelanjutan—baik bagi generasi sekarang maupun anak cucu di masa depan.
Daerah Penghasil Terbesar, Tapi Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Saat ini masih ada ketidakjelasan yang dirasakan masyarakat dalam tata kelola timah. Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah terbesar, namun kesejahteraan warga belum sebanding dengan kekayaan yang dihasilkan dari tanah ini.
“Kami melihat sendiri, tanah kami diambil, lingkungan kami berubah, namun manfaatnya belum sepenuhnya kembali ke masyarakat Belitung. Lalu ke mana hasil kekayaan alam ini pergi? Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan jelas,” ujar Saftomi dengan tegas saat diwawancarai SeputarBabel.com, Sabtu malam (15/8/2026).
Ia menekankan transparansi adalah kunci utama. Mulai dari proses perizinan, jumlah hasil tambang, hingga pembagian keuntungan dan pajak—semuanya harus terbuka dan bisa diawasi publik. Tidak boleh ada ruang bagi praktik tidak jujur, perizinan meragukan, atau penguasaan sumber daya yang tidak adil.
Kemajuan Tak Boleh Merusak Masa Depan
Selain keadilan ekonomi, Saftomi juga menyoroti dampak lingkungan yang muncul akibat aktivitas pertambangan. Lahan rusak, sumber air tercemar, hingga perubahan bentang alam harus segera ditangani secara serius dan bertanggung jawab.
“Kami tidak menolak kemajuan atau investasi. Tapi kemajuan tidak boleh dibayar dengan merusak masa depan anak cucu kami. Setiap aktivitas pertambangan wajib memulihkan kembali lahan yang telah digali, menjaga kelestarian air, dan menjamin keselamatan warga yang tinggal di sekitar lokasi tambang,” tegasnya.
Ia juga meminta pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta perusahaan terkait untuk lebih banyak melibatkan masyarakat lokal dalam setiap pengambilan keputusan. Mulai dari kesempatan kerja, pelatihan keterampilan, hingga pengembangan usaha warga di sekitar lokasi tambang—semua harus mendapat perhatian yang layak.
Pemuda Pancasila Siap Mengawal Tata Kelola yang Lebih Baik
Sebagai organisasi yang menaungi kaum muda, Pemuda Pancasila berjanji akan terus mengawal setiap kebijakan terkait tata kelola timah di Belitung. Saftomi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif, menyampaikan aspirasi dengan cara yang baik, dan menolak segala bentuk praktik yang merugikan kepentingan umum.
“Kami ingin Belitung menjadi contoh daerah kaya sumber daya yang juga makmur, bersih, dan sejahtera. Kekayaan timah harus menjadi jembatan kemajuan, bukan justru menjadi sumber masalah dan kerugian bagi rakyat sendiri,” pungkasnya.
Pernyataan ini pun disambut antusias oleh berbagai kalangan masyarakat. Warga berharap suara kaum muda ini dapat menjadi dorongan nyata agar terwujud tata kelola timah yang lebih baik, adil, dan bertanggung jawab di Kabupaten Belitung.












