BELITUNG, SEPUTARBABEL.COM – Kehadiran Satuan Lapangan Tri Cakti di wilayah Kepulauan Bangka Belitung, khususnya Pulau Belitung, ternyata membawa perubahan besar yang terlihat jelas dari angka produksi dan penyerapan pasir timah resmi milik PT Timah!
Data yang dihimpun dari sumber yang paham betul kondisi lapangan menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok:
Sebelumnya (tahun 2024): Hanya sekitar 300 ton per bulan yang terserap secara resmi.
Sejak September 2025 hingga kini: Melonjak tajam menjadi sekitar 1.500 ton per bulan!
Kenaikan lima kali lipat ini sekaligus memunculkan pertanyaan penting yang ingin diketahui masyarakat luas: Dari mana tambahan ribuan ton itu muncul? Dan ke mana sebenarnya aliran hasil tambang itu mengalir selama bertahun-tahun sebelumnya?
“Dulu hanya sekitar 300 ton sebulan, sekarang naik jadi 1.500 ton setelah pengawasan diperketat. Tentu wajar jika publik bertanya: selama ini ke mana saja sebagian besar hasil kekayaan alam itu pergi?” ungkap sumber tersebut.
Dijelaskan, Satlap Tri Cakti bertugas melakukan penertiban, pengawasan ketat jalur distribusi, hingga pendataan lengkap setiap pergerakan komoditas timah. Hasilnya nyata: lebih banyak masuk jalur resmi, kasus penyelundupan ke luar daerah/luar negeri menurun karena sering berhasil digagalkan, dan barang bukti hasil penindakan semuanya diserahkan ke Gudang Besar Timah (GBT) dengan jumlah serta kadar tercatat utuh, dapat dipertanggungjawabkan.
Namun bukan berarti tugas mudah! Diakui terus menghadapi berbagai gangguan dan tekanan dari pihak tertentu, yang diduga sengaja muncul untuk melemahkan kinerja pengawasan agar kembali bisa beroperasi di luar aturan seperti dulu.
Kenaikan angka ini menjadi bukti ada yang selama ini keluar dari jalur dan tidak tercatat, baru kini mulai tertangkap dan masuk untuk kemaslahatan daerah dan negara. Masyarakat berharap pengawasan tetap kuat dan konsisten, agar kekayaan alam Belitung benar-benar terjaga, tidak lagi bocor, dan manfaatnya bisa dirasakan secara adil oleh semua.












