SEPUARBABEL.COM, BANGKA – Upaya mengusulkan kembali H AS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional terus dimatangkan melalui jalur akademik.
Universitas Bangka Belitung (UBB) menjadi tuan rumah Seminar Kepahlawanan yang dirancang untuk menyempurnakan naskah akademik sekaligus memperluas dukungan publik terhadap tokoh perjuangan asal Bangka Belitung tersebut.
Forum ilmiah ini digelar sebagai respons atas penilaian sebelumnya yang menyebut dokumen pengusulan belum sepenuhnya menggambarkan rekam jejak perjuangan Hanandjoeddin secara komprehensif.
Melalui seminar, berbagai aspek pengabdian Hanandjoeddin, baik pada masa revolusi maupun saat mengisi kemerdekaan, kembali dipaparkan dan dikaji.
Seminar dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain anggota DPD RI, Darmansyah Husein, Staf Ahli Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Agus Suryadi, Plt Kepala Dinas Sosial dan PMD Babel, Fitriasyah, perwakilan ahli waris, APDESI Belitung dan Belitung Timur, serta Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) dari Belitung dan Belitung Timur.
Hadir pula narasumber nasional dan daerah, termasuk Pokja Kepahlawanan Kementerian Sosial, sejarawan, dan pegiat budaya.
Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof Bambang Purwanto, menilai kegagalan pengusulan sebelumnya tidak lepas dari cara pandang kepahlawanan yang masih menitikberatkan pada jabatan struktural dan pangkat militer.
Ia menjelaskan bahwa Hanandjoeddin kerap dianggap tidak memenuhi kriteria “tokoh besar” karena latar belakangnya sebagai teknisi pesawat dengan pangkat terakhir mayor, meski kemudian mendapat kenaikan menjadi letnan kolonel.
“Ukuran kepahlawanan yang terlalu administratif sering kali menutup peran penting orang-orang biasa dalam sejarah,” kata Prof Bambang.
Menurutnya, Hanandjoeddin justru merepresentasikan figur subaltern—orang biasa yang naik melalui kerja keras, loyalitas, dan konsistensi pengabdian.
Ia menegaskan bahwa Hanandjoeddin bukan hanya pejuang lokal, melainkan bagian dari perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, ia mendorong adanya kecerdasan kolektif untuk membuka ruang bagi figur seperti Hanandjoeddin agar diakui sebagai pahlawan bangsa.
Dari sisi prosedural, Pokja Kepahlawanan Kemensos, Triwiyanto, menjelaskan bahwa pengusulan gelar pahlawan nasional menuntut penyajian riwayat perjuangan yang utuh.
Dalam pengusulan sebelumnya, peran Hanandjoeddin sebagai teknisi pesawat sudah tergambar, namun kiprahnya sebagai Bupati Belitung belum tersaji secara menyeluruh dalam naskah akademik.
“Banyak hal yang sebenarnya diketahui oleh TP2GD, tetapi belum tertulis dengan lengkap dalam dokumen,” ujarnya.
Seminar ini, kata Triwiyanto, menjadi momentum untuk melengkapi data, narasi, dan dokumen pendukung agar penilaian di tingkat pusat dapat dilakukan secara menyeluruh.
Dukungan politik juga mengemuka dalam forum tersebut. Anggota DPD RI Darmansyah Husein menilai pengusulan kali ini menunjukkan kemajuan berarti dibanding sebelumnya.
Namun ia mengingatkan bahwa kekuatan akademik perlu diimbangi dengan dukungan sosial yang luas.
Menurutnya, peran media, mahasiswa, dan masyarakat melalui ruang digital menjadi penting untuk membangun kesadaran publik tentang sosok Hanandjoeddin dan nilai pengabdiannya.
Dalam pemaparan sejarah, Hanandjoeddin digambarkan sebagai figur dengan pengabdian berlapis. Pada masa revolusi, ia terlibat dalam pertempuran di Malang dan memimpin restorasi lebih dari 70 pesawat rampasan Jepang.
Sebanyak 37 pesawat dikirim ke Maguwo, Yogyakarta, yang kemudian menjadi cikal bakal sekolah penerbang AURI.
Kepercayaan besar diberikan kepadanya ketika Panglima Besar Jenderal Soedirman menggunakan pesawat Pangeran Diponegoro I—hasil restorasi tim yang dipimpinnya—untuk melakukan perjalanan ke Jawa Timur pada 26 April 1946.
Peristiwa ini menegaskan posisi Hanandjoeddin sebagai figur strategis dalam menopang perjuangan, bukan sekadar teknisi.
Pengabdian tersebut berlanjut pada masa pemerintahan. Saat menjabat sebagai Bupati Belitung, Hanandjoeddin berperan dalam inisiatif pembentukan Provinsi Bangka Belitung melalui Ikrar Tanjung Kelayang.
Ia juga merintis pembangunan pangkalan udara di Tanjungpandan serta dikenal memiliki visi kuat di bidang pendidikan.
Di bawah kepemimpinannya, Pendapatan Asli Daerah meningkat tajam hingga sekitar 1.700 persen. Hampir 40 persen anggaran dialokasikan untuk sektor pendidikan, termasuk pembangunan sekolah dan program kursus singkat bagi guru guna mengatasi kekurangan tenaga pengajar.
Melalui seminar ini, berbagai pihak menegaskan bahwa pengusulan H AS Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar soal administrasi, melainkan upaya membaca ulang sejarah—tentang bagaimana seorang “orang biasa” memberi kontribusi nyata sejak masa perang hingga pembangunan, dan meninggalkan jejak penting bagi Bangka Belitung serta Indonesia. (*/SeputarBabel.com)












