Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Tidak terima tas mewah disentuh Saka (3), anggota DPRD Kota Pangkalpinang, Rosalina tega memarahi anak balita ini dengan nada tinggi. Peristiwa itu terjadi didalam Pesawat Citylink dengan rute Jakarta – Pangkalpinang, Rabu (18/12/2024) pagi. Saka memindahkan tas Rosalina dari kursi pesawat yang akan didudukinya.
Dari informasi yang dihimpun media ini kejadian bermula pukul 09.45 WIB. Saka dan ibunya memang akan pulang dengan pesawat yang sama ditumpangi Rosalina pulang dari tugas dinas luar daerah. Saka mendapat kursi disebelah Rosalina, saat itulah Saka menyentuh tas mewah milik anggota DPRD Kota dari Dapil Gabek ini.
Menurut keterangan dan informasi dari keluarga Saka. Tas mewah itu berada di kursi yang akan diduduki Saka. Karena itulah ia memindahkan tas milik Rosalina itu. Namun hal itu membuat Rosalina tak terima karena tas mewahnya disentuh. Rosalina pun memarahi Saka denga nada tinggi, hingga balita ini pun menangis.
Kejadian ini sudah barang tentu menjadi perhatian penumpang lainnya, tak lama ibu dari Saka ini meminta maaf kepada anggota dewan tersebut. Anggota DPRD Kota, Rosalina pun tetap berkata – kata dengan nada tinggi kepada anak balita hingga mengalami trauma.
Wakil Ketua DPRD Kota Pangkalpinang, Bangun Jaya menyayangkan tindakan anggota fraksi Gerindra DPRD Kota itu, terhadap anak balita. “Kami keluarga besar DPRD Kota Pangkalpinang minta maaf atas peristiwa tak mengenakan ini. Kami akan menegur ibu Rosalina tersebut,” ujar Bangun Jaya yang juga Ketua DPC Gerindra Pangkalpinang, Kamis (19/12/2024) malam.
Tokoh masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Farid Effendi tidak terima dengan perlakuan wakil rakyat itu terhadap cucunya. “Sama sekali tidak berempati ditunjukkan oleh si ibu anggota dewan tersebut. Saya heran bagaimana mungkin orang seperti ini punya kepekaan terhadap rakyat, coba bayangkan pada anak balita saja seperti itu,” sesalnya.
Mantan Wakil Ketua DPRD Provinsi Babel ini mengaku saat dirinya masih menjadi anggota dewan. Partai sangat selektif dalam menetapkan calon legislatif, salah satunya mempunyai empati kepada rakyat. “Dia sama sekali tidak punya kepekaan dan sama sekali tidak punya rasa empati, tapi kok bisa di calonkan partai sebagai wakil rakyat,” sambung pria yang juga akademisi Fakultas Hukum Universitas Pertiba ini.













