Harga Sawi Anjlok, Dinas Pertanian Bangka Soroti Pola Tanam Ikut-ikutan

Bangka,Seputarbabel.com  — Anjloknya harga sayur mayur, khususnya sawi, kembali menghantam petani kecil di Kabupaten Bangka. Harga sawi yang sebelumnya berada di kisaran Rp7.000 per kilogram, kini terjun bebas hingga Rp2.000 per kilogram di tingkat petani.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Syarli Nopriansyah, menyebut kondisi tersebut dipicu oleh melimpahnya pasokan akibat pola tanam seragam yang dilakukan petani dalam waktu bersamaan.

“Petani kita masih sering terjebak budaya ikut-ikutan. Begitu harga sawi bagus, semua menanam sawi. Akibatnya, sekitar 21 hari kemudian panen raya terjadi serentak dan pasokan meledak. Pengepul pun tidak sanggup menyerap semuanya,” kata Syarli, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, hukum pasar tidak bisa dihindari. Dengan jumlah konsumen di Bangka Belitung yang relatif tetap, sekitar 1,5 juta jiwa, lonjakan pasokan secara tiba-tiba membuat harga komoditas sayur daun mudah anjlok.

Syarli mengimbau petani agar lebih cermat dalam manajemen pola tanam. Diversifikasi komoditas seperti kangkung, bayam, dan sawi secara bergantian dinilai mampu menekan risiko kerugian akibat panen serentak.

“Kalau semua tanam satu jenis, risikonya besar. Tapi kalau dibagi, potensi harga jatuh bisa diminimalkan,” ujarnya.

Menanggapi harapan petani agar hasil panen diserap oleh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Syarli menjelaskan bahwa saat ini baru 9 dari 31 dapur MBG yang beroperasi di Kabupaten Bangka. Selain itu, dapur MBG juga tidak bisa mengonsumsi satu jenis sayur secara terus-menerus.

“Anak-anak tentu bosan kalau menunya sawi terus. Dapur MBG membutuhkan variasi seperti wortel dan buncis. Sementara sayur jenis ini umumnya diproduksi di daerah dataran tinggi, seperti Sumatera Selatan atau Berastagi, bukan di Bangka,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pangan dan Pertanian Bangka tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya, menghubungkan pengepul lokal dengan pengelola dapur MBG agar sayur lokal yang sesuai standar gizi dapat diprioritaskan, serta mempercepat aktivasi dapur-dapur MBG yang masih dalam tahap persiapan.

Selain itu, petani juga didorong lebih kreatif dalam menekan biaya produksi, mengingat komoditas sayur tidak mendapatkan subsidi pupuk kimia.

“Petani bisa memanfaatkan pupuk dari kotoran hewan. Ini salah satu cara untuk mengurangi biaya produksi,” kata Syarli.

Terkait anggapan bahwa petani kecil selalu menjadi korban, Syarli menilai perlu adanya evaluasi dari sisi profesionalisme. Menurutnya, petani atau pengepul besar umumnya lebih mampu membaca momentum pasar serta menjaga kualitas hasil panen.

“Tugas kami memastikan sistemnya berjalan. Kami tidak memihak petani besar, tapi petani kecil juga harus belajar menghitung waktu panen. Jangan hanya mengejar cepat ngasel tanpa melihat kebutuhan pasar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *