SEPUTARBABEL.CO, BOGOR – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria menegaskan pentingnya menjaga etika dan nilai kemanusiaan dalam praktik jurnalistik di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.
Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan pembekalan kepada para wartawan dalam kegiatan Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pusat Kompetensi Bela Negara (Puskombelneg) Kementerian Pertahanan, Bogor, Jumat (30/1/2026).
Nezar menyebut industri media tengah menghadapi tantangan besar akibat perubahan lanskap digital yang begitu cepat.
Dominasi platform global dan pemanfaatan AI telah menggeser pola konsumsi berita, sekaligus memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap media arus utama.
Menurutnya, kendali audiens yang sebelumnya berada di ruang redaksi kini berpindah ke tangan algoritma. Kondisi tersebut diperparah dengan tren “zero click”, di mana pembaca memperoleh informasi langsung dari mesin pencari berbasis AI tanpa mengakses situs media.
“Dalam tiga tahun ke depan, trafik media digital diperkirakan bisa turun hingga 43 persen akibat perubahan pola konsumsi ini. Karena itu, jurnalisme harus kembali menemukan keunikannya,” ujar Nezar.
Ia menekankan bahwa meskipun AI mampu mengolah data secara cepat, teknologi tersebut tidak memiliki nurani untuk memahami konteks kemanusiaan dari sebuah peristiwa. Inilah ruang yang harus diisi oleh jurnalis profesional.
Adaptasi dan Kembali ke Lapangan
Untuk tetap bertahan di era disrupsi, Nezar mendorong media menguatkan peliputan lapangan. Laporan langsung dari lokasi kejadian dinilai sebagai kekuatan utama jurnalisme yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.
Selain itu, media juga diminta beradaptasi dengan preferensi audiens terhadap format konten. Data menunjukkan konsumsi video telah mencapai 79 persen, sementara audio dan podcast menyentuh angka 71 persen.
Transformasi ini menjadi kunci untuk menjangkau generasi muda yang semakin visual dan mobile.
Disinformasi dan Tantangan Kedaulatan Informasi
Nezar turut menyoroti ancaman disinformasi yang semakin kompleks seiring berkembangnya AI generatif.
Fenomena produksi massal konten palsu atau AI slop disebutnya sebagai bentuk baru perang kognitif yang berpotensi memengaruhi persepsi publik secara sistematis.
“Ini bukan lagi sekadar hoaks, tetapi upaya serius untuk mengganggu logika dan kesadaran masyarakat. Tantangan ini menyangkut kedaulatan informasi kita,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya penerapan pedoman penggunaan AI yang telah diterbitkan Dewan Pers.
Pedoman tersebut mengedepankan empat prinsip utama, yakni kontrol manusia, tanggung jawab, verifikasi dan akurasi, serta transparansi kepada publik.
Setiap produk jurnalistik yang melibatkan AI, lanjut Nezar, harus disertai keterangan yang jelas agar informasi tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Krisis Regenerasi dan Peran Negara
Nezar juga mengakui adanya krisis regenerasi dalam profesi jurnalis. Minat mahasiswa komunikasi untuk menjadi wartawan kian menurun karena profesi konten kreator dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen menyiapkan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri pers.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan kebijakan publisher rights guna menciptakan kesetaraan antara media dan platform digital global.
Pemerintah, kata Nezar, juga terus mendorong kedaulatan digital nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki posisi tawar dalam ekosistem digital global.
Menguatkan Kompetensi Jurnalis
Dalam penutupnya, Nezar mengajak wartawan untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Penguasaan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, analisis mendalam, dan kepekaan terhadap nilai kemanusiaan.
“Jurnalisme masa depan bukan soal kecepatan semata, tetapi tentang ketepatan, konteks, dan kejujuran,” ujarnya.
Ia berharap retret PWI ini menjadi ruang refleksi bersama agar pers nasional tetap tegak sebagai pilar demokrasi, sekaligus mampu beradaptasi secara bermartabat di tengah era kecerdasan buatan. (*/SeputarBabel.com)













