BANGKA TENGAH, seputarbabel.com – Rusip atau ikan yang difermentasikan merupakan salah satu makanan khas Bangka Belitung. Rusip merupakan makanan tambahan yang biasanya disantap dengan lalapan. Rasanya memang unik agak asam-asam. Biasanya rusip disajikan dicampur dengan irisan bawang merah, cabai dan perasan jeruk kunci.
Sekilas memang tampak tak begitu menarik, tapi jika sudah dicicipi rusip yang berbahan dasar ikan bilis atau ikan ciu ini dapat meningkatkan nafsu makan. Warnanya yang agak keruh dengan potongan daging ikan yang halus dan memiliki bau yang agak menyengat membuat rusip memiliki cita rasa yang khas.
Banyak pelaku usaha khususnya di wilayah pesisir di Bangka Belitung yang memproduksi rusip. Tri Nurjanah salah satunya, warga Batu Belubang Kabupaten Bangka Tengah ini memproduksi rusip sejak dulu, bisnis turunan orang tuanya ini terus Ia kembangkan.
Rusip produksi Tri Nurjanah diberi nama ‘Rusip Mak Lela’ ini telah dipasarkan ke pelosok wilayah Bangka. Bahkan disaat sedang banyak ikan bisa memproduksi hingga ratusan kilo ikan untuk dibuatkan rusip.
“Rusip Mak Lela ini bisnis turunan orang tua saya, sudah sejak tahun 2000 an buat rusip dan ini sudah dipasarkan kemana-mana di Pulau Bangka ada juga ke Palembang. Rusip ini juga sudah memiliki sertifikat halal dan PIRT,” katanya belum lama ini.
Selain memproduksi rusip, dirinya juga memproduksi kemplang ikan, kecalok dan teritib. Sayangnya kecalok dan teritib hanya ada pada musim-musim tertentu.
Tri Nurjanah meneruskan bisnis orang tuanya sejak tahun 2013 silam, menurutnya membuat rusip ini memang susah susah gampang. Pasalnya, jika saat tidak ada stok ikan mereka tak bisa produksi dan jika adonan tidak pas membuat rasa rusip menjadi tidak enak.
“Rusip yang kami buat harus dari ikan segar, kalau enggak segar rusipnya bisa busuk, adonan juga harus pas. Membuat rusip ini kan harus dibersihkan ikannya lalu digiling dan difermentasi selama enam hari,” katanya.
Menurutnya, untuk membuat rusip tidak memerlukan banyak bahan diantaranya hanya garam, gula merah, tepung beras yang disangrai dan ikan.
“Pertamanya ikan dibersihkan, lalu digiling, setelah digiling difermantasikan enam hari. Sebelum difermentasikan ini dicampur dengan garam dan gula merah, nanti mendekati enam hari dicampur diaduk dengan tepung beras untuk aromanya, itu saja prosesnya,” ujaranya.
Ia menceritakan, saat ini produksi rusipnya terus meningkat, hal ini pasca dirinya mendapatakan bantuan modal dari PT Timah sehingga bisa menambah alat produksi.
Menurutnya, dengan dana bergulir dari PT Timah dirinya bisa membeli mesin ikan giling listrik dan peralatan lainnya. Sebelumnya, ia harus membayar upah giling ikan hal ini tentunya menambah biaya produksi. Dengan bisa menggiling ikan sendiri, jumlah produksinya juga terus meningkat.
“Dapat dana bergulir PT Timah saya beli mesin ikan giling listrik, kalau dulu saya ngupah untuk menggilingnya itu biayanya Rp 1000 per kilogram. Saya juga beli tong untuk fermentasi, dan bahan baku lainnya. Makanya saya bisa tambah produksi, kalau dulu paling hanya sekitar 30 kg karena giling ikan masih manual,” ceritanya.
“Saya punya mesin giling ikan manual, tapi itu nariknya susah kalau tidak ada orang laki, Alahmdullillah bisa kebeli mesin listrik berkat modal dari PT Timah,” sambungnya.
Bagi Tri Nurjanah, banyak manfaat yang diperolehnya saat menjadi mitra binaan PT Timah selain bantuan modal, produksinya meningkat, dan biaya administrasi yang dibebankan kepadanya tidak besar.
“Beda pinjam modal di PT Timah dengan yang lainnya, jasa administrasinya kecil sekali. Makanya kita terbantu dengan program ini. Semoga PT Timah selalu bantu UMKM,” harapnya.
Menurutnya, rusip yang dibuatnya memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan dengan rusip lainnya. Bagi anda yang penasaran untuk mencicipi rusip Mak Lela anda bisa datang ke Jalan Balai Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, atau bisa juga memesan melalui akun facebook Melpa Ajah dan nomor telepon 082377059125.
Nikmati sensasi makan rusip, makanan khas Bangka yang menggoda lidah. (rill/timah/red)