Herman – Bimo, Pejuang Demokrasi Yang Dihilangkan

Pemutaran Film "Yang (Tak Pernah) Hilang"

Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Film dokumenter “Yang (Tak Pernah) Hilang 1998”, hingga sore tadi diputar di Bioskop XXI, Transmart Pangkalpinang. Nonton bareng film yang dibuat sebagai bentuk memorialisasi dan advokasi terhadap tragedi korban penghilangan paksa oleh rezim. Mengangkat kisah dua aktivis 98, Herman Hendrawan dan Bima Petrus Anugrah. Keduanya aktivis pejuang demokrasi era rezim otoritarian, yang ikut andil besar dalam melahirkan reformasi.

Film ini mengingatkan kita jika negara masih memiliki ‘hutang’ terhadap korban penculikan. Herman adalah pria kelahiran Pangkalpinang, tepatnya di wilayah Kacang Pedang. Ia diketahui aktif dalam mengorganisir aksi buruh dan mahasiswa, hingga menjadi target penculikan oleh rezim orde baru.

Iwan Prahara (Jaket Putih) Hadir Menonton Bareng Film Dokumenter “Yang (Tak Pernah) Hilang)

Herman diculik usai membuat konferensi pers usai Soeharto melaporkan pertanggungjawaban dan kembali menjadi Presiden. Usai konferensi pers bersama Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD), di Kantor YLBHI, pada 12 Maret 1998 inilah Herman telah diculik dan dihilangkan oleh rezim.

Dalam pemutaran kemarin, hadir keluarga Herman dan teman sekolah satu angkatan di SMP dan SMA. Selain juga dihadiri para mahasiswa, generasi muda serta aktivis 98 Pro Demokratis, seperti pengacara kondang, Iwan Prahara. “Mereka berdua menjadi korban penculikan atau penghilangan paksa pada peristiwa 98 itu,” kata produser “Yang (Tak Pernah) Hilang”, Dandik Katjasungkana.

Rektor Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Fadilah Sobri. Usai pemutaran film, mengatakan jika perjuangan Herman dan Bimo adalah bukti nyata bahwa kebenaran tidak akan dilupakan. “Bahwa perjuangan untuk menegakkan nilai – nilai kebenaran itu pasti ada hambatannya. Tetapi perjuangan itu tidak pernah berhenti, itulah perjuangan Herman Hendrawan pejuang Reformasi dari Kacang Pedang,” ungkapnya.

Teman satu angkatan Herman ketika di SMP ini, juga menegaskan. Kalau, perjuangan Herman dapat menjadi pelajaran bagi generasi muda. “Jangan pernah berhenti memperjuangkan kebenaran, kebenaran akan dikenang sampai kapan pun. Karena yakinlah kebenaran tidak akan pernah pupus, tidak akan pernah dikalahkan dengan kebatilan,” sambung Fadilah Sobri.

Ia juga mengingatkan, jika besok malam pukul 19:00 WIB akan digelar acara serupa di Kampus Unmuh Babel. Bedanya, besok akan ada diskusi terkait film dan perjuangan terhadap korban penculikan yang belum terselesaikan. “Besok malam, bisa datang 1000 peserta pun bisa ditampung,” tambah Fadilah Sabri.

Perlu diketahui film ini dikerjakan oleh kawan – kawan Herman dan Bimo saat menjadi aktivis pro Demokrasi dari Fisip Unair, yang tergabung dalam #KawanHermanBimo. Sampai sekarang negara enggan mengadili para pelaku yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM berat ini dan tidak segera mencari para korban yang masih hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *