https://seputarbabel.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG-20231120-WA0032.jpg

Gubernur Ingin Bursa Timah Bubar

Tak Berkontribusi untuk Babel
Hari ini, ICDX Dilapor ke Presiden

Seputarbabel.com – Lantaran dinilai tidak berkontribusi untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak beroperasi, bursa timah di PT Bursa Komoditi Deveratif Indonesia (BKDI) atau Indonesian Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) yang bermarkas di Jakarta diusulkan untuk dibubarkan. Guna merealisasikan pembubaran itu, hari ini Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Roesman Djohan akan melaporkan ICDX yang tidak berkontribusi ke daerah kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Kepada wartawan usai rapat dengan para pengusaha dan eksportir timah di kantor gubernur, Senin (5/6/2017), Gubernur Erzaldi menegaskan siang ini Selasa (6/6/2017) pukul 13.00 Wib, ia didampingi beberapa pejabat daerah dijadwalkan akan melakukan rapat terbatas (ratas) dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Saat ratas itulah Erzaldi akan melaporkan enam point persoalan di Babel kepada Presiden, termasuk tentang keinginan agar bursa timah di ICDX dibubarkan.

“Ratas dengan presiden saya akan melaporkan mengenai timah. ICDX di Babel belum memberikan harapan berkenaan dengan harga timah. Terus kita menduga apapun yang dilakukan (ICDX) justeru gak menguntungkan daerah dan negara, dan pengusaha,” bebernya.
Disinggung apakah Erzaldi menyarankan eksportir untuk tak lagi menggunakan bursa timah ICDX dalam kegiatan ekspor timah, ia mengaku hanya sebatas melaporkan saja kepada presiden. Dan perihal apa keputusan presiden kelak, itu merupakan hak presiden sebagai kepala pemerintahan untuk memutuskannya.
“Saya hanya melaporkan saja, untuk segera diambil kebijakan. Perkara presiden nerima atau tidak (keinginan membubarkan bursa timah), tergantung, yang penting sudah ada gambaran,” imbuhnya.

Selain persoalan bursa timah ICDX dan pertimahan di Babel, Erzaldi juga akan mempertahankan status Pulau Naduk yang hendak dijadikan pulau karantina sapi nasional di Belitung, yang sudah dicoret dari proyek strategis nasional.
“Ada persoalan KEK, Proyek Strategis Nasional (PSN) bandara (internasional di Belitung), Pulau Naduk kan sudah tereliminir, tapi kita coba untuk mensinkronkan kembali dalam rangka percepatan proyek strategis nasional,” tukasnya.

Menurutnya, konektivitas Bangka Belitung dengan pulau lain pun akan dibahasnya dengan Presiden. Terlebih soal pelabuhan yang berkenaan dengan inflasi. Ia menilai dengan infrastruktur yang siap, bisa menekan inflasi di Babel. Tetapi, inflasi tak semata hanya persoalan infrastruktur saja, diantaranya juga menyangkut distribusi barang.

“Kemudian di sektor pertanian, lada, karet, sawit kita buat inovasi dengan perdagangan langsung yang melibatkan peran petani. Inovasi penanaman lada yang baik dan benar dan mekanisasi pertanian persawahan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), Eka Mulya Putra yang hadir dalam rapat para eksportir dengan Gubernur Babel mengatakan, sejauh ini pihaknya memang sudah menggunakan bursa yakni ICDX untuk bertransaksi timah dengan buyer.
Disinggung rencana gubernur yang akan melaporkan keberadaan ICDX kepada Presiden karena tidak berkontribusi untuk daerah, Eka menyebutkan gubernur tentunya sudah mempunyai pandangan tersendiri tentang bursa timah itu.

Meskipun ia berharap dalam mengambil kebijakan, pemerintah hendaknya berkonsultasi dengan asosiasi pertimahan.
“Gubernur tentu lebih tau apakah ICDX beri keuntungan atau tidak. Saya pikir nantikan dipikirkan. Pemda katanya mau bentuk bursa di daerah, artinya sudah direncanakan. Kita selaku asosiasi eksportir berharap tak ada hal yang dapat menghambat ekspor timah, itu saja,” terangnya.

Diakui mantan anggota DPRD Provinsi Babel dari Fraksi PPP itu, selama ini ekspor timah dalam bursa timah berjalan dengan lancar dibawah naungan ICDX yang berjalan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.

“Kalau bursanya ya baru di Babel ini. Tetapi ICDX-nya sudah lama dan bukan hanya timah. Ada sawit, emas, bahkan forex pun diperdagangkan,” terangnya.
Diakui Eka, dari 24 member AETI yang masih rutin melakukan ekspor saat ini hanya sepuluh perusahaan aktif. Diantaranya adalah PT. Timah, PT Venus, dan RBT.

Untuk diketahui, wacana pembubaran bursa timah di ICDX sejatinya sudah diwacanakan oleh gubernur dan wakil gubernur sebelumnya, Rustam Effendi dan Hidayat Arsani. Bahkan kedua mantan kepala daerah ini sudah membahasnya hingga ke tingkat nasional.

Selain mereka, Komite Penyelamat Timah Indonesia (KPTI) yang berisikan beberapa pimpinan media massa di Babel, pun pernah ikut mendorong dibubarkannya bursa timah di ICDX sejak tahun 2015. KPTI yang telah membawa wacana pembubaran bursa timah itu ke Kementerian ESDM dan BUMN, juga merekomendasikan agar pemerintah daerah membuat bursa timah sendiri yang berkantor pusat di Babel menggantikan bursa ICDX.

Termasuk mengusulkan dan merekomendasikan terealisasinya Wilayah Penambangan Rakyat (WPR), seperti yang pernah dijanjikan Presiden Jokowi ketika bertandang ke Pulau Bangka, medio Juni 2015 silam.

Sumber : Rapos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *