Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) resmi terbentuk. Agus Hendrayadi alias Oce Poneran resmi terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah PA GMNI Babel secara aklamasi. Selain Konferensi Daerah (Konferda) di Hotel PIA, Kamis (17/4/2026), sejak kemarin dilakukan maraton Konferensi Cabang (Konfercab).
Dimulai 2 Cabang di Pulau Belitung dilakukan serentak di Tanjung Pandan. Kemudian hari ini Konfercab 5 Cabang di pulau Bangka dilakukan bersama sebelum Konferda. Hadir Wasekjen DPP GMNI, Roby Robert Repi sekaligus menyerahkan pataka GMNI kepada Agus Oce usai pengambilan keputusan aklamasi.
Ketua Panitia Pelaksana (OC) Wahyu Gusna membenarkan hal tersebut. “Ini kali pertama dilakukan. Kemarin Konfercab 2 Cabang di Tanjung Pandan untuk Beltim dan Belitung berlanjut di Pulau Bangka hari ini dilanjutkan konferda,” kata Alumni FE Ekonomi Universitas Pancasila ini.
Dijelaskan Wahyu dengan tema “Kontekstualisasi Marhaenisme di Era Disrupsi”, ini penegasan bahwa ideologi tidak boleh berhenti di ruang diskusi, melainkan harus hadir sebagai solusi bagi pembangunan inklusif. “Sebagai titik awal merapikan kekuatan alumni yang selama ini tersebar. Kita ingin memastikan bahwa jaringan, keilmuan dan ideologi tetap mengalir dan terhubung dengan kader GMNI. Ini soal keberlanjutan gerakan,” jelasnya.
Wasekjen DPP GMNI, Roby Robert Repi mengingatkan bahwa kekuatan alumni tidak diukur dari seberapa keras berdebat. Melainkan seberapa nyata kontribusi yang diberikan. “Tugas kita bukan hanya bicara ideologi, tapi menjadikannya kebijakan yang berpihak pada rakyat. Kita harus masuk ke ruang-ruang strategis dan membawa gagasan itu menjadi nyata,” tegasnya.
Marhaenisme harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret, baik dalam kebijakan ekonomi, politik, maupun pembangunan daerah yang berkeadilan. Menurut Robet alumni GMNI harus hadir di berbagai lini, baik pemerintahan, swasta dan ruang-ruang pengambilan keputusan.
Konferda dan Konfercab bukan sekedar agenda organisasi tapi mengawal arah pembangunan agar tetap berpijak pada keadilan sosial dan keberpihakan kepada kaum marhaen. “Nasionalisme, bukan sekadar slogan, melainkan instrumen yang selalu relevan dalam perjalanan bangsa. Kalau kita hanya berhenti di wacana, kita akan tertinggal. Alumni GMNI harus bergerak, harus hadir, dan harus memberi dampak,” harap Robet.
Dalam sambutan perdananya, Agus Oce menceritakan jika dirinya sejak tahun 2000 sudah membentuk karateker GMNI Cabang Pangkalpinang. Namun paling berkesan adalah saar mengusulkan Babel menjadi tuan rumah Kongres Persatuan GMNI di Tanjung Pesona.
Dari memenangkan voting tuan rumah kongres nasional, mengungguli provinsi besar seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat. Hingga hari pelaksanaan menurutnya mempunyai makna sejarah.
“Waktu itu kita nekat menawarkan diri jadi tuan rumah karena alasan provinsi baru dan potensi daerah kita. Alhamdulillah, meski ada dinamika, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir dan kongres berjalan lancar,” cerita Agus pemilik Kantor Hukum Agus Poneran Pangkalpinang ini.













