Minggu (5/4/2026 menjadi puncak tradisi Ceng Beng, bagi warga Tionghoa. Ritual Sembayang Kubur membuat arus balik dan kedatang ke Pangkalpinang meningkat sehinggga harus dipesan jauh – jauh hari. Warga tionghoa dari luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akan pulang kampung. Momen ini dijadikan Pemerintah Kota sebagai waktu pelaksanaan Festival Kampung Bintang 2026.
.:Farizandy, seputarbabel.com, Pangkalpinang :.

Besok malam akan jadi malam penutupan, acara dengan beragam perpaduan festival kebudayaan nenek moyang, seni moder dan ajang silaturahmi. Karena bagi Walikota Pangkalpinang, Saparudin Masyarif (Prof Udin), Ceng Beng bisa menjadi kekuatan PKP Kota Toleransi.
Pelaksana perdana Festival Kampung Bintang kali ini diperuntukkan, menyambut warga asal Pangkalpinang yang berada di luar Babel. “Ini kita laksanakan pertama kali untuk menyambut saudara – saudara kita warga tionghoa pulang kampung,” jawab Prof Udin.
Di luar arena panggung utama, pelaku usaha mikro dengan menyajikan kuliner kekonian da kuliner legendari bisa menjadi daya tari. Ketika mereka bisa belanja kue untuk sarapan atau disajikan santai sore dengan keluarga besar. “Belanje kue cem ni luk gati agik kecit – kecit diajak Apo (nenek),” kenang Meri, dengan mata sedikit berkaca.

“Menjaga Tradisi Mempererat Kebersamaan”, ini menjadi simbol akulturasi budaya tionghoa dan melayu di Pangkalpinang. Menciptakan kuatnya harmonisasi, menjadi kekayaan ruang hidup di masyarakat, menciptakan toleransi. “Kalau imlek yang ramai melayu, kalau lebaran Idul Fitri saudara kita warga thionghoa juga ramai bertamu,” cerita Prof Udin.
Lebih dari sekadar ritual ziarah kubur, Ceng Beng mengandung nilai-nilai penghormatan kepada leluhur, bakti kepada keluarga dan refleksi kehidupan mendalam. Ini menjadi salah satu arah baru Pangkalpinang agar mendapat kalender wisata nasional di masa mendatang. “Nikmati kuliner legen seperti Thew Fufa (kembang tahu) dan tew fusui (susu kedelai) di sini. Bisa ingatkan memori nostalgia di kampung halaman,” ajak Prof Udin.
Prof Udin berharap, Pemkot Pangkalanang memberikan kesan baik kepada mereka yang pulang kampung untuk ritual Ceng Beng. Sehingga nanti bisa berkontribusi membangun Kota Pangkalpinang bersama – sama.
“Kalau sekarang cukup selain menyambut mereka (yang pulang kampung untuk Ceng Beng), tujuan kita (pemkot) juga menyambung silaturahmi masyarakat Kota Pangkalpinang yang ada di sini dengan mereka saudara kita yang selama ini di luar Bangka,” harap Prof Udin.
Ia pun berharap akan ada dampak dari festival budaya dan kuliner ini bagi masyarakat sekitar. Kegiatan ini diupayakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi memperluas pasar bagi UMKM lokal dan mengangkat Pangkalpinang di kancah pariwisata nasional. Kolaborasi antara budaya, religi dan nilai-nilai kehidupan, ditutup dengan berbelanja kuliner.
Jika memungkinkan, arena festival bisa jadi lokasi untuk mereka yang pulang kampung menikmati malam bersama. Pantauan media ini, rekayasa lalulintas satu-satunya yang perlu dikritisi. “Warisan lokal kita bisa dikemas secara menarik dan relevan dengan zaman, tanpa kehilangan maknanya,” tambah Prof Udin.
Hadir pada pembukaan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pangkalpinang Hj Susanti, Wakil Walikota Dessy Ayutrisna, Wakil Pengurus Daerah Bhayangkari Babel, Nana Silvana. Selain Kepala OPD, hadir pula para camat, seperti Camat Bukit Intan, Muhamad Amir, Camat Rangkui Muhammad Subhan Camat Girimaya, Luthfi Darma Saputra dan Camat Gerunggang, Richard Syam.
Ketua Panitia Acara, Irma Hutajulu menjelaskan sejak kemarin hingga besok. Berbagai kegiatan akan digelar, pada panggung utama dan berburu kuliner di ratusan stan. Dari pukul 14.00 WIB, acara akan berlangsung hingga pukul 21.00 WIB. “63 tenda menyajikan Bazar Kuliner Chinese Halal, juga ada 120 pelaku UMKM. Ada 102 talent berpatisipasi dan diisi berbagai pertunjukan seperti wushu dan kuda lumping,” paparnya.
Usai pembukaan, Irma sangat bersyukur apabila acara ini menjadi agenda tahunan Pemkot. Tradisi Ceng Beng mencerminkan bakti kepada leluhur dan wujut komitmen Pangkalpinang menjadi kota toleransi. “Penting sekali untuk memberdaya ekonomi masyarakat, ini juga akulturasi budaya. Kita harapkan bisa menggaet wisatawan. Banyak yang pulang kampung dalam rangka Ceng Beng dan meningkatkan kesadaran akan tolerasi,” tambahnya.













