Dirjen Pertambangan Myanmar Kunjungai Kampung Reklamasi

Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), menjadi lokasi studi banding bagi Direktorat Jenderal (Ditjen) Pertambangan Myanmar. Kemarin rombongan tersebut mengunjungi Kampung Reklamasi Air Jangka PT Timah, sebelum berkunjung ke kantor pusat PT Timah Tbk.

Rombongan delegasi berjumlah 24 orang tadi, dipimpin oleh Khin Latt Gyi dari Ditjen Pertambangan Kementerian SDA dan Pelestarian Lingkungan, Myanmar. Setelah bertemu dengan Gubernur Babel Erzaldi Rosman, Rabu (17/7/2019) di komplek perkantoran Air Itam, jadwal mereka di Babel berakhir hari ini.

Kunjungan delegasi di kantor pusat PT Timah Tbk Kamis (18/7/2019) kemarin, disambut General Manager Wilayah Operasi Babel, Ahmad Syamhadi di Griya Timah. Syamhadi dihadapan 24 delegasi Kementerian, Myanmar tadi melakukan pemaparan singkat. Salah satu poinnya tentang perizinan serta pengelolaan sumber daya alam dalam otonomi daerah.

Ahmad Syamhadi Menerima Cideramata

Sebelumnya rombongan berkunjung ke Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, destinasi wisata baru yang sebelumnya lahan bekas tambang. Disana mereka berkesempatan mencicip buah lokal, melihat berbagai tanaman perkebunan dan sayuran. “Sebelum ke kantor rombongan memang ke Kampung Reklamasi Air Jangkang,” kata Kabid Komunikasi Perusahaan PT Timah Tbk Anggi B Siahaan.

Sebelumnya di Kantor Gubernur Rabu lalu, Erzaldi memastikan kedatanga delegasi guna mengetahui penyerahan kekuasaan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Dipastikan kunjungan mereka tidak terkait dengan investasi apa pun di Babel, melainkan hanya studi banding. “Karena mereka baru peralihan dari junta militer ke pemerintah desentralisasi,” ungkapnya.

Erzadi saat itu juga memberikan gambaran mengenai otonomi daerah di Provinsi Babel, di mana beberapa belum menjadi kewenangan mereka. Karena masih dikuasai oleh pemerintah pusat, salah satunya izin usaha yang diterbitkan untuk PT Timah. “Mereka mengejar terkait aturan di negara kita untuk diimplementasikan di Myanmar selain komoditinya sama,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *