Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Belakangan rare earth yakni mineral tanah jarang atau logam tanah jarang (LTJ) menjadi menjadi tranding topik. Karena China berencana membatasi ekspor kandungan rare earth ke Amerika Serikat. Holding BUMN Pertambangan, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), seperti akan mendorong pengembangan riset yang dilakukan oleh PT Timah Tbk. Karena pengembangan awal langkah ekstraksi LTJ dari monazit telah dilakukan PT Timah sejak awal Mochtar Riza Pahlevi Tabrani menjabat Direktur Utama PT Timah Tbk.

Ketika CNBC Indonesia membahas soal rare earth di Indonesia, laman CNBC Indonesia menuliskan unsur rare earth juga ada di Indonesia dan kini sudah mulai dilakukan pengembangan pada mineral tanah jarang tersebut. Direktur Mining and Metals Industry Indonesia, lembaga riset yang dinaungi Inalum, Ratih Amri mengungkapkan dalam wawancaranya di laman tadi. Menurutnya unsur rare earth atau cobalt ditemukan para proses penambangan dan pengolahan mineral dari anggota Holding yakni PT Timah dan PT Antam.
Ratih juga membenarkan PT Timah telah melakukan riset dalam upaya melakukan ekstraksi rare earth dari monasit. Sehingga dia pun berpikir agar kegiatan riset LTJ di Unit Metalorgi (Unmet) PT Timah tadi dapat disinergikan oleh PT Inalum sebagai holding. “Timah ada produk samping namanya monasit, banyak terkandung elemen rare earth. TINS sendiri sudah coba ekstraksi dari monasit, nah kami pikir kalau dibantu kerja sama dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) akan lebih cepat progresnya,” kata Ratih dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (12/2/2019) lalu, tulis laman CNBC Indonesia, Rabu (5/6/2019) pagi.
Salah satu contohnya, rare earth dapat digunakan sebagai bahan magnet permanen yang diaplikasikan pada sektor energi baru terbarukan dan industri elektronik. Ia menuturkan, unsur rare earth dan cobalt ditemukan dalam penambangan oleh anggota Holding BUMN Pertambangan. “Dan tidak hanya pendekatan dari aspek riset saja, tetapi juga aspek keekonomiannya. Kami bisa meminta MIT untuk membantu menghitung kira-kira dari rare earth mana dulu yang bisa dikembangkan, pasarnya di mana, dan teknologinya bagaimana yang harus dikembangkan,” tambah Ratih.
Masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pun tidak asing dengan kekayaan mineral tanah jarang, dengan nama logam tanah jarang. Karena pembicaraan soal ‘harta karun’ masyarakat tadi telah lama diperbincangkan. Sejak PT Timah melakukan riset langkah ekstraksi monasit, baru disadari kendalanya adalah teknologi ekstraksi belum dimiliki Indoensia. Karena dari beberapa tahap ekstraksi riset yang dilakukan PT Timah belum mampu menyelesaikan menjadi produk yang diperdagangkan.
Sebagai dasar dari manufaktur listrik, rare earth adalah 17 elemen yang berfungsi sebagai komponen utama dalam berbagai perangkat mulai dari smartphone atau ponsel pintar dan kamera berteknologi tinggi hingga televisi layar datar dan komputer. China mendominasi rantai pasokan global, dan Washington sangat bergantung pada kekuatan super Asia itu untuk mengakses logam tersebut sedemikian rupa sehingga komoditas itu belum dikenakan kenaikan bea impor.













