Pemberdayaan Program Rehabilitasi Berkelanjutan PT Timah

Seputarbabel.com, Bangka – 2.000 unit rumpon kerjasama dengan 40 nelayan Rebo ditenggelankan di laut Bangka. Ini dilakukan sebagai bentuk syukur dengan potensi sumber daya alam (SDA) provinsi kepulauan Bangka Belitung (Babel). Sehingga kegiatan rehabilitasi dilakukan terus menerus oleh PT Timah dengan lokasi dan jumlah berbeda tiap tahunnya.

Hadir dalam acara Program Fishing Ground di perairan laut Rebo, kerjasama dalam pengembangan pemberdayaan masyarakat (PPM) PT Timah dengan Nelayan Rebo. Dihadiri Direktur Utama PT DAK Dicky Sinoritha, General Manager Wilayah operasi Babel Ahmad Syamhadi, Kepala Divisi Pengamanan Moch Jaelani, Kepala Divisi CSR Rendi Kurniawan dan Pjs Kepala UPLB Ryan Andri. “Semoga ini menjadi keberkahan untuk nelayan di Desa Rebo,” ujar Ahmad.

Baca : PT Timah Rehabilitasi Laut Bangka

Potensi laut, pertambangan dan pariwisata Babel sangat mungkin disinergikan. Komitmen perusahaan dalam menjalankan kewajiban perusahaan dilakukan sejalan. Seperti ketika Tins Gallery mulai dibuka, bersamaan dengan dimulainya program pemulihan sektor pariwisata di Babel. “Kita (harus) bersyukur dan beruntung dengan sumber daya alam di Bangka Belitung. Selain ikan dan timahnya banyak pantainya cantik,” ungkap Ahmad.

Menurut Ahmad berdasarkan data dan koordinasi dengan himpunan nelayan seluruh Indonesia (HNSI) Babel. Produksi ikan nelayan Babel terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Artinya meskipun aktivitas tambang berjalan tetapi tidak mengganggu aktivitas penangkapan ikan nelayan daerah ini. “2 tahun lalu PT Timah menjadi contoh dalam menyusun standarisasi rehabilitasi laut,” sambungnya.

Dalam seminar nasional digagas oleh kementerian ESDM itu, PT Timah menjadi contoh dalam menyusun standarisasi rehabilitasi laut. Metode rehabilitasi laut itu telah dijadikan buku, sebagai referensi menjadi bukti komitmen akan menjaga ekosistem alam. “Standarisasi PT Timah menjadi contoh mengelola rehabilitasi laut akibat pertambangan mineral,” cerita Ahmad.

Potensi laut Babel menurut Ahmad bisa dimaksimalkan, dengan program – program kewajiban perusahaan. Berbagai kewajiban perusahaan pertambangan sudah dilakukan saat akan operasi. Apalagi penambangan harus dilakukan, terukur, terencana dan bertahap. Semua itu bila tidak berurutan berpotensi menjadi penyebab kerusakan lingkungan, terlebih tidak dilakukan. “Spiritnya adalah mensyukuri semua sumber daya alam di Babel,” bukanya.

Studi dan metode rehabilitasi lingkungan sudah tergambar saat perusahaan akan operasi. Begitu juga saat produksi, rencana rehabilitasi dilakukan hingga reklamasi. Terkait bagaimana mengelola rehabilitasi lingkungan menjadi komitmen yang berkelanjutan dilakukan PT Timah. “Makanya sebelum disetujui rencana tambang, harus sudah menyiapkan rencana rehabilitasinya saat eksplorasi,” tambah Ahmad.

Terlebih di era Direktur Utama PT Timah Tbk Mochtar Riza Pahlevi Tabrani, bentuk sinergi dengan program pemerintah daerah. Banyak program – program perusahaan mendukung sektor pariwisata. Kampung Reklamasi, Tins Gallery dan program reklamasi juga bisa disinergikan menunjang ekonomi dan sektor pariwisata. “Artinya sinergi bisa dilakukan,” ajak Ahmad.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *