Pemuda Katolik Jawa Tengah Maknai Natal 2025 sebagai Seruan Merawat Kehidupan dan Alam

Bagi iman Katolik, peristiwa inkarnasi menegaskan bahwa Allah tidak berjarak dengan sejarah manusia maupun ciptaan.

Kegiatan yang dilakukan Pemuda Katolik Jawa Tengah merayakan Natal 2025. (Istimewa)

SEPUTARBABEL.COM, JAWA TENGAH – Perayaan Natal 2025 dimaknai Pemuda Katolik Jawa Tengah tidak sekadar sebagai peringatan iman liturgis, tetapi juga sebagai ajakan refleksi mendalam atas realitas zaman.

Kelahiran Kristus dalam kesederhanaan palungan Betlehem dipandang sebagai tanda kehadiran Allah yang memilih masuk ke dalam kerapuhan dunia, menghadirkan harapan di tengah keheningan, bukan melalui kemegahan kuasa.

Bagi iman Katolik, peristiwa inkarnasi menegaskan bahwa Allah tidak berjarak dengan sejarah manusia maupun ciptaan.

Sebaliknya, Allah hadir menyatu dengan kehidupan yang sederhana. Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia dan alam memiliki martabat yang harus dijaga bersama.

Dari rilis dari Pemuda Katolik Jawa tengah yang diterima SeputarBabel.com,  Minggu, 21 Desember 2025 menyatakan bahwa sejalan dengan Tema Natal 2025 serta Arah Dasar IX Keuskupan Agung Semarang, Pemuda Katolik Jawa Tengah mengajak umat untuk menghidupi iman yang matang, tangguh, dan bertanggung jawab.

Semangat Quaerere et Salvum Facere (mencari dan menyelamatkan) dipahami sebagai panggilan untuk mewujudkan iman dalam tindakan nyata, tidak berhenti pada doa dan perenungan, tetapi berani terlibat aktif dalam kehidupan sosial, kebangsaan, dan ekologis.

Pemuda Katolik Jawa Tengah menyoroti kondisi sosial dan pembangunan nasional yang menunjukkan paradoks.

Di satu sisi, pembangunan ekonomi terus dipacu melalui eksploitasi sumber daya alam, namun di sisi lain, kerusakan lingkungan semakin meluas.

Deforestasi, ekspansi perkebunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem, aktivitas pertambangan yang tidak bertanggung jawab, serta meningkatnya bencana ekologis menjadi tanda relasi manusia dan alam yang belum sehat.

“Kita menyaksikan bumi semakin rapuh—hutan menyusut, sungai tercemar, tanah rusak, dan udara memburuk. Bukan karena alam murka, tetapi karena manusia sering abai mendengarkan,” demikian refleksi yang disampaikan.

Dalam perspektif iman, krisis ekologis dipandang bukan semata persoalan teknis atau kebijakan publik, melainkan persoalan moral dan cara pandang.

Alam kerap ditempatkan sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai bagian dari keluarga ciptaan. Natal, dengan kehadiran Kristus di dunia yang terbatas dan terluka, menjadi kritik sunyi terhadap keserakahan yang mengorbankan manusia dan lingkungan demi kepentingan sesaat.

Merujuk pada ensiklik Laudato Si’ dan seruan apostolik Laudate Deum, Pemuda Katolik Jawa Tengah menegaskan bahwa krisis lingkungan merupakan krisis relasi—antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Oleh karena itu, solusi tidak cukup bertumpu pada teknologi dan regulasi, tetapi membutuhkan pertobatan gaya hidup serta keberanian menata ulang arah pembangunan agar berkeadilan dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Sebagai kaum muda Katolik, mereka menegaskan komitmen untuk menghidupi spiritualitas inkarnasi, yakni iman yang membumi, reflektif, dan bertanggung jawab.

Melalui proses discernment, Pemuda Katolik Jawa Tengah berupaya membaca tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam realitas bangsa, sekaligus mengambil peran secara dialogis dan solider.

Mereka menolak menjadi generasi yang hanya lantang bersuara tanpa tindakan nyata. Sebaliknya, langkah konkret seperti merawat lingkungan, menanam pohon, membangun kesadaran ekologis, serta terlibat dalam dialog lintas iman menjadi pilihan perjuangan.

Kehadiran di ruang publik dimaksudkan bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak bekerja bersama demi kebaikan bersama.

Natal 2025, bagi Pemuda Katolik Jawa Tengah, menjadi momentum memperbarui komitmen. Terang Natal diyakini hadir melalui kesetiaan kecil yang dijalani secara konsisten.

Dengan semangat tersebut, mereka berkomitmen menanam harapan agar pengelolaan alam semakin bijaksana, pembangunan bangsa semakin adil, dan panggilan menjaga kehidupan dijalani dengan rendah hati. (*/SeputarBabel.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *