Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Tadi pagi dilakukan penurunan rumpon di perairan pantai Rebo, sebagai program Fishing Ground PT Timah Tbk. Rangkaian penutup kegiatan pengerjaan karang buatan dan rumah ikan dengan nelayan Rebo. Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) ini telah berlangsung sejak Agustus 2020, menghasilkan 2000 rumpon.
Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Utama PT DAK Dicky Sinoritha, General Manager Wilayah operasi Babel Ahmad Syamhadi, Pjs Kepala UPLB Ryan Andri, Kepala Divisi Pengamanan Moch Jaelani dan Kepala Divisi CSR Rendi Kurniawan. Dijelaskan Ahmad selain proses akhir reklamasi yang juga bisa bersinergi ada berbagai kewajiban terkait lingkungan. “Penambangan dan rehabilitasi itu satu kesatuan, makanya harus ada rencana tambang, bukan cuman reklamasi,” kata Ahmad Syamhadi.
Ia menjelaskan jika sebagai perusahaan pertambangan, memiliki kewajiban yang menjadi kesatuan dari operasi produksi. Selain harus memiliki CSR, menjalankan program PPM dan mendorong ekonomi masyarakat di wilayah produksi adalah kewajiban tersebut. “Terkait program ini, sudah berlangsung (penenggelaman) sejak 2 minggu lalu, hari ini berakhir. Semoga ini menjadi keberkahan untuk nelayan di Desa Rebo,” terang Ahmad.
Dipastikan pembuatan transplantasi karang ini dengan empat model tersebut melibatkan nelayan. Diakui Koordinator Nelayan Desa Rebo, Min Kho membantu mereka yang sedang tidak ke laut. “Kalau mereka tidak ke laut baru ikut membuat rumah ikan ini. Sampai kalau 40 nelayan dilibatkan sejak Agustus tahun ini,” ungkapnya.
Ditemui terpisah, Herman nelayan lainnya membenarkan hal tersebut. Bukan hanya membantu pendapatan mereka, disaat tidak bisa melaut, karena angin dan tingginya gelombang. “Kita bukan hanya dapat penghasilan, tapi juga punya ketrampilan baru dan wawasan baru cara membuat rumah ikan,” jelasnya.
Kabid Komunikasi Perusahaan PT Timah Tbk Anggi Siahaan, tadi sore mengatakan pembuatan rumah ikan ini melibatkan masyarakat nelayan di Desa Rebo. Upaya perusahaan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat pesisir di tengah pendemi Covid-19 dan kondisi cuaca tidak bersahabat. “Walau tidak ke laut karena cuaca ekstrem, pendapatan nelayan tetap terjaga,” jawabnya.