Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Tahun ini merupakan fase menentukan bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Sebagai daerah kepulauan yang sedang mencari bentuk pembangunan, pasca ketergantungan dengan pertambangan. Berikut beberapa sektor yang akan memengaruhi skenario pertumbuhan ekonomi Babel 2026, menurut Rektor Universitas Pertiba (Uniper) Babel, Suhardi.
Ia menganalisa pertambangan dan penggalian akan menyumbang 18 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRD) tahun ini. Hanya saja kontribusinya terhadap pertumbuhan tahunan relatif terbatas, yakni sekitar 0,3–0,4 poin persentase. Suhardi memastikan pertumbuhan sektor ini cenderung moderat, seiring keterbatasan cadangan, tekanan regulasi dan fluktuasi harga timah global. “Dengan demikian, meskipun tambang masih signifikan secara nominal, perannya sebagai motor pertumbuhan semakin melemah,” jawabnya.
Justru sektor pertanian, kehutanan dan perikanan diproyeksikan menjadi jangkar stabilitas ekonomi. “Dengan pangsa sekitar 19 persen PDRB dan kontribusi pertumbuhan mendekati 0,8 poin persentase, terutama didorong oleh perikanan tangkap, budidaya dan aktivitas hilir sederhana yang mulai berkembang,” terang Suhardi.

Industri pengolahan menjadi sektor kunci dalam proyeksi 2026, yakni 11–12 persen PDRB dan pertumbuhan diperkirakan mencapai 5–6 persen. Hanya saja kontribusi ini, sangat tergantung keberhasilan mendorong hilirsasi hasil pertanian, perikanan dan sebagian mineral.
“Sektor ini berpotensi menyumbang lebih dari 0,6 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Namun sangat bergantung pada keberhasilan mendorong hilirisasi hasil pertanian, perikanan dan sebagian mineral, serta ketersediaan infrastruktur logistik dan energi yang memadai,” papar Suhardi.
Hanya saja, apabila tidak didukung kebijakan industri yang konsisten, sektor ini berisiko hanya tumbuh secara sporadis. “Jika begitu tidak mampu menjadi penyangga utama ketika sektor tambang melemah,” sambung Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Uniper ini.
Sektor perdagangan, transportasi, pariwisata diproyeksikan menjadi penggerak utama sisi permintaan. Perdagangan besar dan eceran, dengan pangsa 14 persen PDRB, diperkirakan tumbuh diatas 5 persen, menyumbang sekitar 0,7 poin persentase pertumbuhan ekonomi.
Aktivitas pariwisata, akan berdampak langsung untuk sektor akomodasi dan makan minum, meski relatif kecil diperkirakan tumbuh paling cepat. Pariwisata memiliki efek berlipat pada konsumsi rumah tangga dan UMKM. “Meski kontribusi langsung terhadap PDRB masih terbatas, sekitar 4 persen. Sektor ini diperkirakan tumbuh paling cepat, mendekati 7 persen. Dengan kontribusi pertumbuhan ekonomi sekitar 0,3 poin persentase,” ungkap Suhardi.














