https://seputarbabel.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG-20231120-WA0032.jpg

Cerita Hoklopan dan Lempah Kuning Bangka

Nostalgia, makanan khas dan jajanan malam, menjadi judul yang cocok untuk tulisan ini? Tiga hari pelaksanaan Bangka Belitung Food Festival (BBFF) di Citraland Botanical City, menghadirkan kuliner khas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Menu lempah kuning, kopi dan hoklopan (martabak manis) menjadi kuliner yang ditonjolkan tiga hari ini, ketiganya mewakili budaya masyarakat Babel.

“Men ikak bukan urang bangka aok lah, dak hal dak pacak muet lempah kuning. Ikak kan lahir di Belinyu harus pacak jok -sapaan sebaya- masak lempa kuning,” testimoni kawan di Pangkalpinang ini kembali teringat. Dua menu makanan menjadi tema menulis untuk jurnalis yang diselenggarakan BBFF 2017, sebagai makanan khas yang punya nilai sejarah dan budaya masyarakat Babel.

Martabak Bangka memang ‘ngetop’ tidak hanya di pulau Jawa, ternyata di Kepulauan Riau pun jajanan malam hari ini digemari. Dari situs batam today, penulis mengetahui di Tanjung Pinang, Martabak Bangka Teladan punya cabang di jalan Pemuda. “Sejarahnya, ternyata martabak manis merupakan makanan khas Bangka yang disebut dengan nama Hok Lo Pan dalam bahasa China. Dibakar dengan mengunakan arang, ternyata membuat Hok Lo Pan atau martabak menjadi lebih legit dan enak,” tulis laman yang terbit 7 Desember 2017 itu.

Pendekok adalah nama lain hoklopan alias martabak Bangka, rasa wijen, coklat dan keju atau campuran dua dari rasa tadi menjadi menu pilihan. Menurut seorang paman, dulu setiap malam minggu dia selalu membeli mertuanya martabak depan bioskop Gelora di Belinyu. Kalau dar ceritanya, penjual hoklopan di dua bioskop Belinyu memang terkenal. “Waktu kuliah juga menjadi menu favorit yang tidak terjangkau, maklum kuliah om harus cari biaya hidup sendiri,” sambung paman tadi.

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Babel, menjadi motor untuk mengangkat berbagai aspek daya tarik wisatawan datang ke Babel saat ini. BBFF 2017 yang menghadirkan Chef Eddrian Tjhia dan Chef Desi Trisnawati sang Master Chef, mengangkat berbagai menu asli daerah ini untuk pecinta wisata kuliner. “Bangka Belitung Food Festival Hadirkan Kuliner Favorit Bung Karno” menjadi judul laman Liputan6.com. “Anda pecinta wisata kuliner? Ingin menikmati Kue Pelite yang menjadi kesukaan Bang Karno saat diasingkan di Pulau Bangka? Atau mencicipi kue Si Kentut yang sedap aromanya?,” tulis laman tadi.

Pada pembukaan acara Ketua GIPI Djohan Riduan Hasan, mengaku lempah kuning bisa jadi makanan di penjuru dunia. Karena rasanya memiliki khas, tidak kalah dengan tom yam kuliner asal Thailand sehingga kekayaan kuliner kita harus dipopulerkan. Dengan terkenal tentu akan menjadi daya tarik masyarakat luar datang, selain menikmati keindahan pantai, budaya dan sejarah.

Pembukaan BBFF 2017 ditandai pemukulan bedug, dilakukan oleh Djohan Riduan Hasan bersama Kepala Dinas Pariwisata Babel Rivai, dan Ketua Pelaksana Wendo Irwanto. Hari pertama lomba membuat lempah kuning, diikuti 60 peserta dengan juri Chef Eddrian Tjhia dan Chef Desi Trisnawati, pesertanya pemilik restoran dan warung makan.

Hari kedua akan diisi dengan lomba menyeduh kopi, dan tadi hari ketiga ada lomba membuat martabak. Ternyata selain martabak, lempah kuning dan kopi, kita punya banyak makanan khas yang bisa dikelola untuk menarik minat wisatawan dunia datang ke Babel. Khusus untuk lempah kuning, ketika kuliah memang menjadi menu yang dirindukan. Ternyata pendekok rasa wijen, punya banyak kenangan yang berkesan sepanjang hidup ini.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *