BANGKABANGKA BARATBangka BelitungBELITUNGBELITUNG TIMURKABAR UTAMANEK NGETOPPANGKALPINANGSeputar Tambang

Beda Mochtar Riza Dengan Dirut PT Timah Sebelumnya

Ditekan Harga Logam Hingga Kondisi Pasar Global

Seputarbabel.com, Jakarta – Direktur Utama PT Timah Tbk Mochtar Riza Pahlevi Tabrani, tentu punya kerja fundamental. Sehingga harus tetap menjadi Chief Executive Office (CEO) anggota Holding yang bergerak dipertambangan timah ini. PT Timah selain ditekan harga timah sejak semester II-2019, juga ditekan situasi pasar global.

Kinerja PT Timah Tbk kuartal III mencatat penurunan rugi bersih Rp 255,16 miliar, dibanding kuartal II-2020, dengan rugi bersih Rp 390,07 miliar. Anggota Holding Industri Tambang ini sebelumnya mencatat rugi bersih Rp 611 miliar, tahun 2019. Penyebabnya karena melemahnya harga logam timah khususnya semester II-2019. Penyebanya beban produksi meningkat sehingga pembukuan mencatat beban modal usaha membengkak.

Baca : Pasar Mulai Serap Logam Timah

Baca : Indikator Kinerja PT Timah Baik

Namun kinerja keuangan membaik dibuktikan ketika September 2020. PT Timah tidak hanya memencatat penurunan rugi bersih kuartal III-2020, Rp 255,16 miliar lebih baik dibandingkan kuartal II-2020, Rp 390,07 miliar. Pembukuan per September 2020 mencatatkan pendapatan sebesar Rp 11,88 triliun, beban pokok pendapatan mengalami penurunan 17,88% menjadi Rp 11,12 triliun.

Baca : Bantu Ekonomi Era Pandemi

“Perspektif kuartal III-2020 dibandingkan dengan kuartal II-2020 menunjukkan perbaikan antara lain Gross Profit Margin (GPM) yang naik menjadi 6,40% dari sebelumnya 3,13%,” jelas Direktur Keuangan PT Timah Tbk Wibisono.

Kuartal III-2020, PT Timah mencatat laba kotor Rp 760,02 miliar, naik signifikan dari kuartal II-2020 sebesar Rp 249,94 miliar. Net Profit Margin (NPM) meningkat dari sebelumnya -4,89% menjadi -2,15%. “Pada kuartal III-2020 tercatat cashflow operasi sebesar Rp 4,84 triliun, naik dibandingkan kuartal II-2020 sebesar
Rp 3,17 triliun. EBITDA kuartal III-2020, Rp 850,36 miliar meningkat dibandingkan
kuartal II-2020 Rp 338,72 miliar,” sambung Wibisono.

Baca : Langkah Kongkrit PT Timah Tanggap Covid-19

Ditambahkan Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Muhammad Zulkarnaen Dharmawi, membaiknya cashflow operasi dan EBITDA jadi indikator sehatnya finansial. Emiten Tins ini mampu membayar sebagian kewajiban jangka pendeknya dan hutang obligasi. Sehingga posisi utang bank jangka pendek sebesar Rp 4,74 triliun turun sebesar 46,10% bila dibanding tahun 2019, Rp 8,79 triliun.

Sehingga pasar global dan ditekan harga memang membuat beban biaya produksi membengkak, karena harga logam timah turun menjadi 13 ribu dollar per metrik ton. Sedangkan direksi sebelum justru selain diuntungkan dengan harga mencapai 20 ribu dollar, juga naiknya nilai tukar dollar.

Baca : Kantongi Pendapatan Rp 7,98 Triliun, Optimis Kinerja Membaik

Hampir mirip dengan apa yang dilewati Kuntoro Mangkusubroto dan Erry Riyana Hardjapamekas. Kuntoro menghadapi beban produksi lebih besar dari harga jual. Berbagai kebijakan Kuntoro dalam berhemat dan mutu produksi meningkat dengan biaya rendah pada akhirnya membuat perusahaan tidak bakrut.

Tahun 2002 PT Timah harus mengalami ancaman likuidasi. Itu karena harga timah terus menurun dan pembeli menunda transaksi sehingga stok logam menumpuk. Ini terjadi pada era Erry Riyana, kemudian situasi pasar membaik membuat PT Timah lolos dari likuidasi.

Baca : PT Timah Dorong Ekonomi UMKM

Baca : Reklamasi PT Timah Sulap Lahan Tambang Jadi Agrowisata

Kini, bersama dengan Direksi PT Timah saat ini, Mochtar Riza pun berupaya dengan memanfaatkan kondisi pasar. Selain terus memantau harga dan pasar global logam timah, PT Timah juga tetap meperhatikan kondisi perekonomian masyarakat. Lewat program kewajiban perusahaan, PT Timah justru mendorong pelaku UMKM tetap menggerakan perekonomian lewat usaha mereka.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker