BANGKABANGKA BARATBangka BelitungBANGKA SELATANBANGKA TENGAHBELITUNGBELITUNG TIMURKABAR UTAMAPANGKALPINANGSeputar Tambang

Produksi LTJ Indonesia, Tunggu PT Timah Dapat Mitra Untuk Teknologi Pengolah

Seputarbabel.com, Pangkalpinang – Pabrik pilot project pemisahan Logam Tanah Jarang (LTJ) dari monasit sebagai mineral ikutan timah, dikembangkan PT Timah Tbk sejak 5 tahun belakang. Guna memproduksi rare earth mineral hingga alloy, perlu dilalui proses ekstraksi mineral sehingga terpisah, dengan teknologi pengolahan.

Direktur Utama PT Timah Tbk Mochtar Riza Pahlevi Tabrani membenarkan jika mereka sedang menjajaki mitra kerja sama untuk pengolahan tersebut. Hanya saja karena teknologi pengolahan rare earth mineral dari monasit tidak umum, maka perlu teknologi yang sama.

“Pabrik ini sudah dioperasikan selama 5 tahun lalu untuk memisahkan monasit, mineral ikutan bijih timah, untuk menjadi mineral individu. Pabrik uji coba pilot project plant rare earth di Bangka Barat. Sejak 5 tahun kami sudah bisa pisahkan monasit, mineral ikutan bijih timah, untuk jadi mineral individu,” jelas Mochtar Riza dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, akhir bulan lalu.

Mochtar Riza, Rabu (21/10/2020) lalu menjelaskan dalam Closing Bell, CNBCIndonesia, Cina mineral utama rare erath bukan timah tapi emas atau perak, sedang Brazil adalah tantalum. “Kembali lagi jika teknologi ini proved, terbukti bisa menghasilkan produk dari rare erarth itu (monasit), kita siap kerja sama,” mengutip dialog virtual dengan Savira Wardoyo.

Beberapa negara Eropa, Amerika, Australia, Myanmar dan India adalah negara yang memproduksi rare earth, diluar Cina. Negara eropa sepertinya akan menjadi pilihan, benarkah? “Itu yang sedang kita lihat, ada beberapa negara kan, seperti Cina, dari eropa ada Francis dan Norwegia,” jawab Riza Rabu (28/10/2020) lalu.

Perlu diketahui Cina menguasai produksi rare earth sejak 10 tahun terakhir. Kini produksinya 132 ribu metrik ton. Amerika, hanya 26 ribu metrik ton, namun kebutuhan akan rare earth tinggi. Negara eropa, juga belum diketahui apakah teknologi pengolahanya tepat tidak untuk monasit. “Belum (kesepakatan) kita lagi mengkaji teknologi, untuk memastikan teknologi yang dipilih (tepat untuk monasit),” ujar Riza.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker