OPINI : Pentingnya Pendidikan Keaksaraan di Era Digital

OPINI : Pentingnya Pendidikan Keaksaraan di Era Digital

Oleh,

Heriyanto,S.H.I.

Guru SMP Negeri 4 Gantung

foto-Heriyanto,S.H.I.

Seputarbabel.com – Dewasa yang belum bisa membaca, menulis, dan menghitung yang bisa kita temui. Dalam istilah lainnya, orang seperti ini disebut juga dengan buta aksara atau buta huruf. Lalu, haruskah kita membiarkan hal ini terus berlangsung hanya karena kita tidak merasa dirugikan? Keberadaan orang-orang buta aksara di sekitar kita, mungkin gak akan membuat kita rugi, terutama kalau kita merasa mereka masih bisa kok memiliki penghasilan meski gak bisa baca tulis. Waduh, ini nih pola pikir yang harus kita ubah dari sekarang. Bayangkan, ketika mereka tidak bisa baca tulis seperti sekarang mereka masih bisa mencari nafkah, maka tentu akan banyak jalan rezeki lain yang akan terbuka ketika mereka sudah mengenal cara menulis dan membaca. Tentu hidup mereka pun akan berubah, cara mereka memandang dunia juga akan berbeda. Usahamu untuk meluangkan waktu mengajari mereka, pasti akan jadi hal manis yang tidak akan mereka lupakan. Lalu, bagaimana sih pendidikan keaksaran itu? Pendidikan keaksaraan adalah salah satu program pemerintah untuk mengurangi buta aksara di Indonesia. Bukan tanpa alasan, keberadaan orang dewasa yang tidak bisa baca tulis menjadi bumerang tersendiri, tidak cuma bagi kemajuan negeri ini, tapi utamanya bagi diri mereka sendiri. 

Oleh karena itulah pendidikan keaksaraan ini penting untuk kita terapkan dan aplikasikan pada semua orang di sekitar kita. Sasaran dari pendidikan keaksaraan ini adalah mereka yang tentunya tidak bisa baca, tulis, dan hitung seperti mereka yang tidak lulus sekolah dasar serta yang merupakan masyarakat dengan perekonomian lemah. Berdasarkan pengalaman, mengajarkan baca, tulis, dan hitung pada orang dewasa merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, diperlukan perlakuan khusus yang agak sedikit berbeda dibanding ketika mengajar anak-anak. Salah satu contohnya adalah seperti kegiatan menulis yang justru perlu lebih didahulukan dibanding membaca. Hal ini karena orang dewasa memiliki sensor motorik yang sudah lebih terasah. Sehingga, mengenal huruf dan angka melalui tulisan mereka sendiri dirasa lebih mudah. Buta aksara hanya akan bisa diberantas jika kita, sebagai kerabat terdekat mereka, memiliki kemauan untuk merubah hal tersebut. Sebagai kerabat yang lebih dekat dengan mereka, kita tentu lebih tau bagaimana cara mengajar yang tepat agar mereka mudah mengerti, kapan waktu senggang mereka yang bisa kita sisipi untuk proses belajar mengajar, serta apa saja hal-hal yang erat dengan keseharian mereka sehingga lebih mudah untuk mereka serap. Makanya pendidikan aksara ini memerlukan orang terdekat sebagai tutor atau pengajarnya. 

Bukankah kita ingin orang terdekat kita bisa lebih gampang dalam menjalani keseharian dengan mulai mengenal angka dan huruf? Ketika kemampuan baca, tulis, dan hitung mulai dimiliki semua kalangan masyarakat, tentu akan banyak perubahan yang terjadi. Dimulai dari diri mereka sendiri terlebih dahulu, mereka akan bisa lebih mudah mencari lapangan pekerjaan. Ada lebih banyak kesempatan terbuka bagi mereka yang bisa membaca dan menulis. Kemudian tentu akan berimbas pada keluarga yang dihidupinya juga, yang hidupnya pasti akan lebih terbantu jika penghasilannya mulai meningkat. Selanjutnya, tentu akan memberikan dampak positif bagi negara kita. Impian untuk menjadi negara yang lebih maju pastinya akan selangkah lebih dekat. Serta akan ada banyak lagi manfaat lain yang dirasakan langsung oleh yang bersangkutan. Tidak berhenti sampai disitu, pendidikan aksara juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Mengkritisi segala hal disini maksudnya adalah bagaimana cara kita melihat suatu masalah dan kemudian menemukan solusi paling ampuh terhadap masalah tersebut tanpa merugikan banyak pihak. 

Orang yang kritis juga lebih bisa menerima perbedaan pendapat, lebih tenang dalam menyikapi berbagai hal, serta mendahulukan berpikir sebelum bertindak. Caranya, adalah dengan terus mengajak mereka mendiskusikan berbagai hal, membaca suatu isu hangat, menelaah sebuah gambar dan meminta mereka menuangkan pendapat mengenai hal itu, dan lainnya. Pelan-pelan, kita transfer cara-cara positif dalam memandang suatu permasalahan. Hasil akhirnya, tentu bisa kita lihat lambat laun. Proses pendidikan tidak ada yang instan. Jika kita berharap hasilnya akan terlihat dalam beberapa bulan, maka mungkin kita akan kecewa. Jangan pernah lelah untuk terus mengajari orang terdekat kita agar mereka bisa membaca, menulis, dan menghitung. Semuanya akan menuai hasil suatu saat nanti. Semangat terus buat kita semua!

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan