Psikolog Babel : Terpapar Covid19 Bukan Kenistaan

Psikolog Babel : Terpapar Covid19 Bukan Kenistaan

Psikolog sekaligus Dosen IAIN SAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Primalita Putri Distina menjelaskan dalam sepekan terakhir jumlah masyarakat terpapar Covid-19 terus bertambah. Stigma negatif masyarakat terhadap pasien terpapar virus dengan nama SARS-CoV-2 ini menjadi ancaman dan keresahan pasien maupun keluarga.

Seputarbabel.com, Rilis

“Stigma negatif yang muncul berupa ejekan kepada pasien dan keluarga atau orang yang berkaitan dengan pasien Covid-19. Selain itu, ada pula pengucilan yang diterima oleh pasien dan keluarganya. Ini yang harus kita sikapi bersama ditengah pandemi ini,” katanya.

Munculnya stigma negatif bagi pasien dan keluarga terpapar Covid-19 lantaran masih minimnya edukasi tentang Covid-19 secara menyeluruh. Covid-19 sebagai penyakit baru dengan tingkat penyebaran cepat, ditambah belum ditemukannya vaksin, membuat masyarakat jadi cemas hingga ketakutan berlebih.

“Rasa cemas dan takut yang tidak dikelola dengan baik salah satunya bisa membuat kita mudah untuk melampiaskan rasa gelisah tersebut kepada orang lain, terutama pasien Covid19 yang dianggap sebagai ancaman. Padahal, jika masyarakat diedukasi dengan baik hal ini bisa diatasi,” saran perempuan berkacamata ini.

Lebih jauh, Ia menjelaskan stigma negatif diberikan masyarakat kepada pasien dan keluarga akan berdampak pada kesehatan mental personal. Kondisi psikologis pasien Covid-19 sangat memengaruhi imunitas pasien dalam proses perawatan dan penyembuhan. “Bayangkan saja, kalau pasien berada dalam tekanan psikologis seperti stres karena menerima ejekan atau pengucilan dari masyarakat, tentunya kondisi mentalnya melemah, begitupula dengan imunitasnya,” sambungnya.

Ia pun mengajak agar kita semua, agar saling besinergi menghilangkan stigma negatif bagi pasien maupun keluarga. Anjuran pemerintah ialah untuk physical distancing, berati menjaga jarak fisik bukan menjaga jarak sosial. “Padahal keluarganya negatif Covid-19 tapi masih saja mendapat stigma negatif. Padahal, keluarga pasien dapat menjadi salah satu suporter utama pasien untuk berjuang sembuh,” harap Primalita.

Hubungan sosial harus tetap dilakukan dengan berbagai medium, dukungan moral tetap bisa disampaikan, dan yang paling penting bagaimana kita bisa menahan diri tidak memberikan stigma negatif bagi pasien, keluarga dan lingkungannya. “Kita masih boleh kok bersosialisasi, termasuk dengan pasien dan keluarganya,” terangnya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberikan dukungan, misalnya mengirimkan kalimat penyemangat, menyebarkan informasi positif seperti banyaknya pasien bisa sembuh. Bijak menggunakan media sosial maupun medium percakapan personal dengan menyebarkan kalimat penyemangat. “Mari kita lebih berempati, kondisi pasien dan keluargannya sangat butuh support dari orang – orang di sekitar,” tambahnya.

Kerjasama menjadi kata kunci dalam penaganan Covid-19 tidak hanya secara medis, dukungan sosial harus saling dikuatkan dalam menangani pandemi ini. “Positif Covid-19 bukanlah sebuah Kenistaan, mereka yang menyebarkan bukan pula pembawa virus, tapi cobalah kita untuk lebih berempati, saling memberikan dukungan karena siapa saja bisa terpapar,” pinta perempuan berjilbab ini.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan