Bangka BelitungBELITUNGBELITUNG TIMUR

Harga Timah Membaik, Ekonomi Masyarakat Bergerak

Seputarbabel.com, Beltim – Sektor pariwisata di pulau Belitung memang, kurang dominan menjadi mata pencarian baru masyarakat di Belitung Timur (Beltim). Berbeda dengan masyarakat di Kabupaten Belitung, sektor pariwisata di Beltim belum bisa tereksplorasi secara total. Disaat pasir timah pada kalangan penambang, mencapai Rp 100 ribu tak heran perekononian masyarakat bergeliat.

Ketika harga pasir timah dikalangan penambang inkonvensional mencapai Rp 100 ribu. Memang pekerja lepas tambang inkonvensional merasakan dampaknya. Mengingat mereka yang tidak menggunakan mesin, bisa berpenghasilan Rp 100 – 200 ribu dalam sehari. “Cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,’’ kata Daud, seorang penambang asal Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar.

Daun ditemui di pesisir Pantai Burung Mandi, Jumat (12/03/2018) lalu mengaku selain menambang dia juga nelayan. Karena hasil menangkap ikan dipengaruhi cuaca, dan hasil berkebun butuh waktu maka menambang jadi penghasilan hariannya. “Dalam sehari menambang, kami bisa mendapatkan minimal 5 kg timah. Ke laut saat cuaca tidak mendukung kita tidak bisa berharap banyak,” terang Daud.

Dari pantauan penulis, sektor pariwisata di Beltim memang belum menggeliat seperti halnya di Belitung. Baru ada empat hotel melati yang berlokasi di Desa Manggar, tak jauh dari Desa Burung Mandi. Itu pun dibenarkan Daud, ketika ditanya potensi wisata di Pantai Burung Mandi. ’’Susah kalau di sini. Belum ada investor yang masuk. Lihat saja sendiri, pantai ini sepi sekali,” jawabnya.

Memang di kawasan Pantai Burung Mandi, belum ada satupun hotel yang tersedia. Sementara, biaya hidup di Beltim cukup tinggi membuat wisatawan  lebih memilih Kabupaten Belitung menjadi tempat bermalam. Hal ini diakui juga oleh Ending, nelayan lain yang duduk berdampingan dengan Daud. Jangankan untuk makan, harga minuman di Pantai Burung Mandi relatif lebih mahal.

’’Bayangkan saja, satu butir kelapa muda bisa seharga Rp 50.000. Sayuran per ikatnya Rp 5.000. Ikan – ikan juga mahal. Jangan kaget jika makan dan minum di sini tidak cukup bermodal seratus atau dua  ratus ribu rupiah,’’ ungkap Ending.

Karena itu, baik Daud maupun Ending, tidak mengherankan jika masyarakat Desa Burung Mandi masih bergantung pada tambang timah. Apalagi potensi timah di dua Kabupaten ini masih berpotensi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker